Oct 20, 2022

Hai Kawan.

Banyaklah berkawan, namun cermatlah dalam memilih kawan.

Cari yang benar-benar sejalan ke arah kebaikan, bukan yang menggiring kita ke berbagai pemahaman menyimpang. Tidak apa sedikit mengambil langkah mundur untuk memberi jarak, sebab hidupmu adalah sepenuhnya tanggung jawabmu kepada Sang Pemilik Hidup. Anggaplah yang segelintir itu didatangkan untukmu sebagai ujian, tak perlu kemudian kamu menaruh benci karena darinya kita peroleh sebuah pembelajaran. 

Bicara kembali dengan hatimu, siapakah yang bertahan di hari-hari terburukmu. Gemerlap sering terlalu menyilaukan mata, hingga sekejap kamu mungkin lupa, ada yang menangkupkan telapaknya serta senantiasa mengucapkan namamu di dalam doa. 

Harimu mungkin terasa sesak, coba kamu terka lagi, bisa saja itu karena hatimu yang tahu kamu sedang berjalan di arah yang salah. Tidak usah takut terbelenggu kabut abu-abu tebal yang dingin dan penuh hingar bingar, kau tinggal palingkan wajahmu kemudian raih tangan yang dulu selalu mengusap punggungmu sewaktu lelah.

Tidak ada yang menang dalam perlombaan ini. Semua yang bertahan hingga akhir adalah sesungguhnya pemenang. Dari letih dan setiap keringat itu, kamu kemudian dapat mengingat bagaimana hidup yang telah kita perjuangkan. Langkahmu kadang melambat, tidak mengapa, asal kamu tidak berhenti melangkah. Atur saja nafasmu sejenak sambil menata kembali ritme kaki kita.

Iya. Kita. 

Bagai bayangan dengan pemiliknya. Selekat itu kita tidak pernah terpisah, bahkan di malam gelap yang hanya terdapat sedikit cahaya dari rembulan. Lantas bagaimana saat semua cahaya itu menghilang? Aku kemudian menyatu dengan gelap dan memelukmu dengan erat. Kehadiran sosokku tidak akan kamu sadari, namun aku betul-betul berharap, dalam tenang hangatku dapat menyentuhmu. 

Hai kawan sejiwa, aku sedang menantimu di persimpangan. Langkahmu mungkin sempat terlampau cepat untuk kuiringi tapi sesuai janjiku, janji kita, tidak ada yang akan tertinggal dalam perjalanan ini. Entah kamu atau aku yang harus beradu, tangan kita akan kembali melenggang bertaut.


-Sangkala Derawan-

Jul 18, 2021

Gawai, Pro atau Kontra?

Well
Saat semua orang mulai berpaling, lantas di sini aku mencoba kembali. Yang kumaksud adalah kembali menulis. Beberapa tahun lalu, ketika menulis jadi fokus utamaku, rasa-rasanya mengungkapkan sesuatu lewat kisah tertulis tak sesulit ini. Aku butuh aktualisasi atas segala hal yang telah aku serap tanpa sempat tersalurkan. Salah satunya demi kesehatan jiwa, walau pun ini mungkin terkesan monolog, tak apa yang penting aku menemukan kenyamanan.

Kalau kamu, apa yang sedang kamu lakukan akhir-akhir ini untuk penyaluran emosimu? Cerita dong, barangkali itu juga bisa menginspirasiku. Haha, canggung rasanya berkomunikasi tanpa tatap muka. Setiap jiwa sedang dipaksa beradaptasi dengan kebiasaan baru ini. Buat kamu yang bisa cepat menyesuaikan diri, mungkin ini bukan sebuah masalah besar tapi coba perhatikan sekelilingmu, ada sebagian mereka yang lantas begitu tertekan dalam situasi ini.

Sebagai yang dapat dikategorikan (masih) anak muda, individualisme rasanya cukup melekat dengan kita yang tumbuh besar dengan buaian gawai. Bayangkan angkatan orang-orang tua kita, ah, bahkan aku sudah tidak tega membayangkannya. 

Bicara tentang gawai, aku (dan suami) memberikan perhatian lebih terhadap beberapa pola asuh serta pola didik anak yang "terpapar" gawai. Tidak, tidak, aku tidak sedang membuka ruang untuk kalian saling berdebat tentang alasan dibalik pilihan kalian masing-masing. Aku hanya merasa, 'baiklah, ini saat kami belajar. Tuhan sedang kasih kami waktu lebih untuk menyusun strategi'. Sejujurnya, aku bukan anti terhadap penggunaan gawai dalam pola asuh anak tapi aku juga termasuk yang ketat dalam mengawasi dan mengizinkan keponakan-keponakan untuk bermain dengan gawai. Yes, I'm the strict auntie, sorry kids

Semua pilihan tentunya kembali ke pertimbangan kamu ya. Orang-orang bilang, jadi orang tua itu tidak ada sekolahnya. Betul! Tapi harus diingat juga kalau Tuhan berikan akal pada manusia untuk terus belajar, lewat apa pun bentuknya. Canggihlah zaman sekarang, tak sulit rasanya untuk partisipasi dalam ruang-ruang belajar daring. Jangan berpuas dengan ilmu yang kita miliki. Ada sebuah perumpamaan dari salah seorang sahabat yang masih kuingat hingga sekarang:

Datanglah sebagai gelas kosong, sehingga ilmu dapat kamu tampung dan mengisi kekosongan di gelasmu. Saat kamu datang dengan gelas yang penuh, akan lebih sulit menerima lebih banyak ilmu.

Jul 16, 2021

Pelukku Untuk Kalian

Hampir satu setengah tahun berlalu dalam pandemi ini. Banyak yang bertahan, tapi tidak sedikit juga dari meraka yang berakhir dengan kehilangan. Jika ada yang mengatakan bawa semua akan kena pada waktunya, aku tidak sepenuhnya setuju. Aku ingin terus berharap mereka yang hingga saat ini sehat, akan selamanya terus sehat dan mereka yang pernah atau sedang sakit akan bergabung dengan kerumunan yang sehat di kemudian hari.

Terlampau banyak rasanya, hati ini ditempa berita duka. Bahkan tangisku sering kali tak tampak lewat air mata lagi. Kedukaan yang bertubi seakan menghimpit mental kita. Berita genting datang dengan waktu yang begitu sedikit, segalanya harus diputuskan cepat dan bijak. Setiap dari kita dipaksa untuk mampu membuat pilihan terbaik untuk masa tersulitnya. Bukan satu atau dua keluarga yang berduka, bahkan satu keluarga dapat kehilangan nyaris setengahnya sekali waktu. 

Huft.

Ini tidak mudah teman-teman, sungguh. Mama, Papa, dan suamiku juga pernah terpapar di awal tahun ini. Awalnya aku memutuskan untuk berangkat ke Jakarta untuk mengurus orangtuaku selama beliau menjalankan isoman. Keputusan itu sungguh tidak mudah untukku, tapi pasti akan terasa ribuan kali lebih sulit bagi mereka (Mama dan Papa). Dengan mengemban resiko ikut terpapar, aku dan adik lelakiku mendampingi Mama dan Papa. Qadarullah kami dapat menyelesaikan masa isoman dengan lancar dan hingga akhir aku, adikku, tetap sehat dan negatif Covid. Bekal pengetahuan itu aku gunakan saat bulan berikutnya harus merawat suami yang juga sempat terpapar.

Aku sejujurnya hanya punya semangat dan pikiran yang terus positif saja sepanjang waktu, agar semua itu tersampaikan tanpa perlu aku ucapkan dengan kata-kata ke mereka. Saat takdir Allaah itu datang kepada kami, hanya berserah yang paling meringankan hati. Saling menuduh sesuatu yang tak tampak dengan penglihatan manusia, hanya menghabiskan tenaga dan menguras emosi semata. Ikhlas terima sakitnya, tapi lawan virus di dalam tubuh. Penting sekali punya support system yang terus kasih afirmasi positif untuk teman atau saudara yang terpapar, karena simpang siurnya berita di linimasa sedikit banyak pasti meresahkan mereka yang sakit.

Kebiasaan baru yang akhir-akhir ini sedang aku jalankan adalah manajemen informasi. Aku mulai dengan seleksi akun-akun di linimasa yang memberikan informasi positif. Akun inspirasi olahraga, resep-resep masakan, atau sekedar candaan ringan. Lalu memilah inner circle. Masa-masa sulit ini seperti mengungkap sisi lain dari setiap manusia. Seleksi orang-orang yang tetap bertahan di lingkaran terkecil kita sangat penting. Satu lagi, secara berkala sering tanya kabar teman-teman mulai dari yang terdekat sampai yang mungkin sudah lama tak berkabar. Beberapa kali, Tuhan 'menampar' aku lewat berita duka sahabat-sahabat yang aku tidak sempat tanyakan kondisinya saat ini. Sesak sekali.

Kalian mungkin menghadapi situasi yang lebih sulit dari aku. Hanya dukungan semangat dan doa untuk kalian, agar Tuhan menguatkan kalian dan seluruh keluarga untuk menghadapi ujian ini. Bertahanlah. Aku mohon, pada siapa pun dari kalian yang sedang berjuang melawan sakit. Setelah ini, kita akan tertawa bersama lagi. 


Masa PPKM, 16 Juli 2021

Jun 13, 2019

Bukan Soal Nilai Sekolah

Sambil menunggu antrian ke dokter gigi, saya duduk di sebuah bangku panjang sambil sibuk bermain ponsel. Dari seberang bangku tempat saya duduk, menunggu juga seorang ayah dengan kedua anaknya.

Ada yang mencuri perhatian saya saat mendengar bapak itu berbicara ke salah satu anaknya. Rupanya anak laki-laki itu baru saja membuka bungkus makanan yg dia bawa sejak datang, lalu membuang sampahnya sembarangan. Bapak itu dengan sigap, menegur si anak

"Ayo buang sampah di tempatnya, jangan sembarangan. Cari tempat sampahnya!"

Anak laki-laki yang mungkin usianya sekitar 5 tahun itu kemudian memungut sampah yang dia jatuhkan ke lantai dan membawanya ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari ruang kami menunggu.

Kagum

Kesadaran yang bapak tersebut tanamkan ke anaknya pasti sedikit-banyak membentuk karakter si anak. Bagaimana cara kita bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan, berani memperbaiki, dan yang paling penting adalah belajar tentang disiplin dan kebersihan.

Walau pun belum jadi orang tua, saya sering memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitar yang sudah lebih dulu dititipi keturunan mendidik anak-anak mereka. Tentu tidak ada orang tua yang sempurna untuk dijadikan panutan satu-satunya. Semua memiliki nilai positif dan negatifnya masing-masing tanpa perlu saling menghakimi. Namun saya yakin bekal edukasi bukan hanya soal meraih nilai tertinggi di sekolah. Nilai kehidupan seperti tata krama, disiplin, kemandirian, keberanian, dan sportivitas tidak kalah penting untuk disemai sejak dini.

Hal tersebut adalah bekal untuk anak saat dewasa nanti agar mampu menjalani hidup sebagai makhluk individu sekaligus sosial yang baik.

Feb 21, 2018

Mata Buram Pulang dari Curug Sawer

05:43 Taoca, sudah bangun?

Dengan mata mengantuk aku kirim whatsapp tersebut ke grup percapakapan TMG Belum Tamat, nama grup yang berarti Tetangga Masa Gitu belum selesai. Sebuah serial televisi di salah satu televisi nasional yang kami rasa kondisinya mirip sekali dengan kehidupan bertetangga kami namun sudah berhenti tayang.

Beberapa menit kemudian notifikasi pesan baru dari grup muncul. Rupanya Sita dan Bayu sudah bangun. Pagi ini kami memang janji ingin main ke Curug Sawer di daerah Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Sengaja kami berencana berangkat pagi, agar udara disana masih segar dan matahari belum terlalu terik. Jadi walau pun semalam kami pulang larut sebab bertemu dengan Puput, seorang teman yang liburan ke Bandung sekaligus untuk menghadiri acara pernikahan temannya, kami tetap harus bergegas untuk berangkat. Menyiapkan perbekalan adalah salah satu yang terpenting, sebab selain lebih sehat juga lebih hemat 😋.

Menghindari lalu lintas yang mungkin padat, kami memutuskan untuk menggunakan sepeda motor. Sekitar pukul 6:30 Sita dan Bayu sudah sampai di rumah kami, dan bersiap untuk menuju Curug Sawer bersama-sama. Oia, rumah kami hanya terpisah dua blok saja, jadi kami sudah seperti ban mobil, kemana-mana sering berempat.


Perjalanan kami pagi itu terbilang cukup lancar, tiba di kawasan wisata yang dikelola oleh Perhutani ini sekitar pukul 8:30. Di pintu gerbang ada petugas retribusi kawasan Curug Sawer, untuk setiap orang akan diminta membayar sebesar Rp 7500,- dan Rp 2500,- untuk sepeda motor. Oia, sebelum masuk ke kawasan Wana Wisata, di sebelah kiri terdapat bangunan radio milik pemerintah Belanda pada zaman penjajahan. Saat ini bangunan tersebut sudah tidak digunakan namun masih dibiarkan berdiri. Oleh karena itu pula, lingkungan sekitar bangunan tersebut disebut dengan Kampung Radio.

Kembali ke perjalanan hiking kami, setelah melewati sebuah jembatan kecil, area kiri terdapat hammock yang dapat dicoba oleh pengunjung. Sayang kami tidak sempat mencoba sehingga kurang tahu apakah ada biaya tambahan untuk pengunjung yang ingin merasakan sensasi bersantai di hammock


Jalanan menuju puncak, terbilang cukup bagus karena dapat dilalui oleh kendaraan roda dua bahkan roda empat. Namun tetap saja harus saat berhati-hati karena medan yang kadang cukup terjal dan bagian tepi yang cukup curam. Bukan hanya pengendara saja, tetapi pejalan kaki seperti kami juga perlu ekstra hati-hati terhadap lalu lintas kendaraan, khususnya roda dua. Dari informasi yang kami peroleh rupanya seringnya kendaraan roda dua yang melintas disebabkan terdapat pemukiman warga di puncak bukit tersebut, yaitu Desa Karangtanjung.


Saat perjalanan turun kami menyempatkan mampir ke Curug Sawer yang memang menjadi daya tarik utama dari kawasan tersebut. Akses menuju curug terbilang masih sangat alami, sebab hanya berupa jalan setapak. Wilayah curug juga tidak terlalu besar, namun air disana saat sejuk hingga membuat kami tidak tahan untuk beristirahat sejenak sambil bermain air. Kebetulan sedang ada beberapa anak (yang menurut kami sepertinya warga lokal) yang sedang bermain disitu, sesekali mereka melompat ke air dari batu besar di sisi air terjun. Kucuran air terjun tidak terlampau deras, sehingga untuk berenang di bawah aliran tersebut cukup aman. Namun, namanya bermain di alam bebas kita harus tetap waspada untuk masalah keselamatan. Satu lagi, jangan buang sampah sembarangan! Kalau membawa minuman atau makanan dalam kemasan plastik atau apa pun yang sulit terurai, simpan dulu bekas kemasannya sampai kalian menemukan tempat sampah. Jahat sama alam, dampaknya akan kita sendiri yang merasakan, so ayo tertib dari diri sendiri.


Sudah segar bermain air di Curug Sawer kami kembali ke titik awal tempat kami memarkir kendaraan. Beberapa dari kami berganti baju, karena sudah basah keringat dan di curug tadi. Perut kami sudah sangat lapar, jadi sebelum kembali kami sepakat untuk mampir makan ikan bakar dan bayi lobster di daerah Rancapanggung. Ada salah satu restoran yang memang sudah menjadi kegemaran kami, yaitu restoran Famili, dari arah curug letaknya di sebelah kiri jalan.

Tiba di resto, *JENG JENG*, saya menyadari sesuatu.. Kacamata yang tadi berada di saku jaket sudah tidak ada. Sad bingits pemirsa! Sambil mengingat-ingat, dugaan sementara kacamata itu mungkin jatuh di area parkir curug sebab disana saya sempat bertukar kacamata. Terpaksa makan ikan sambil nyureng-nyureng ini sih :( Kesedihan jadi bertambah waktu tahu, bayi lobsternya sedang kosong karena cuaca yang sedang kurang bagus sehingga tangkapan pun sedikit sekali. 

Perut sudah berontak, jadi kami lekas memilih menu untuk disantap. Satu katel nasi liwet, empat ekor ikan, tahu, tempe, lalap, sambal, es kelapa, dan soda gembira jadi pilihan kami. Tips saat datang ke lokasi ini adalah sabar, sebab ikan akan dibakar dadakan saat ada pelanggan. Jadi, jangan tidak sabar menunggu karena percayalah penantianmu tidak akan sia-sia. Sambalnya, nikmat! Ikan bakarnya, lezat! Dan yang paling menghibur, makan berempat sampai perut super kenyang hanya Rp 158.000,- saja. Terakhir dan paling penting, perut kenyang harus cepat dibawa pulang, kalau tidak keburu tidur di restoran 😂 

Sampai jumpa di cerita TMG Belum Tamat #ExploreBandungBarat selanjutnya.

Salam,
AK

Feb 1, 2018

Main Wayang dan Gamelan di nDalem Kilen Homestay

Malang memang tidak pernah salah untuk dijadikan tujuan wisata. Udara yang sejuk, kuliner yang enak yang beragam, serta keramahan masyarakatnya selalu membuat setiap orang yang datang ke Malang ingin kembali lagi. Suatu kebanggaan untuk saya, bisa menikmati masa kecil hingga remaja di Kota Bunga ini.

Seiring perkembangan, pariwisata Malang pun terus berbenah. Sekarang tidak hanya Museum Brawijaya, Taman Rekreasi Sengkaling, dan Objek Wisata Wendit saja yang menjadi daya tarik Malang. Seperti yang banyak diliput oleh televisi nasional, Kampung Jodipan, Kampung Tridi, dan masih banyak lagi saat ini menjadi tujuan wisata yang diserbu oleh para wisatawan. Semua memiliki keunikannya masing-masing sehingga terus ramai dikunjungi masyarakat.

Jangan takut berlibur ke Malang!
Selain terkenal dengan tujuan wisatanya, Malang pun bisa dijadikan tujuan oleh para backpacker karena murah. Murah tapi tidak murahan ya.. Hehe.. Kuliner dan tiket masuk objek wisatanya ramah di dompet. Cakep dah pokoknya. 

Oia, supaya lebih hemat, jangan lupa cari lokasi bermalam tidak terlalu jauh dari tujuan wisata yang kamu ingin kunjungi. Menghindari kemungkinan terjebak kemacetan dan harus berganti kendaraan umum beberapa kali. Ada rekomendasi Li, buat tempat bermalam yang murah, nyaman, dan dekat kemana-mana? Ada bingit! Coba buka aplikasi pencarian hotel dan penginapan yang biasa kamu gunakan, lalu cari nDalem Kilen Homestay.

Bermalam di nDalem Kilen
Kental dengan unsur Jawa, nDalem Kilen menjadi tempat bermalam yang pas untuk kamu yang ingin berkunjung ke Malang. Lokasinya berada di jalan Mayjen Panjaitan No. 137 Kota Malang. Sangat mudah dijangkau dari stasiun Kota Malang karena kamu hanya perlu naik angkutan umum jurusan ADL (Arjosari-Dinoyo-Landungsari) tepat dari depan stasiun. Armada taksi daring juga ada di Malang, namun hingga saat ini stasiun Kota Malang masih termasuk dalam redzone sehingga untuk menggunakan taksi daring saya sarankan untuk berjalan sedikit menjauh dari area stasiun. Kembali ke nDalem Kilen Homestay, untuk bermalam disini kamu tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, karena kamarnya bervariasi mulai dari harga 250-400 ribu. Kalau beruntung, bisa dapat harga promo lewat aplikasi pesan daring.

nDalem Kilen Homestay cocok juga untuk kamu yang sedang melakukan perjalanan kerja ke Malang karena disini tersedia akses internet untuk para tamu. Jika sudah penat bekerja, kamu bisa berkunjung ke Malang Town Square dan Malang Olimpic Garden (MOG) Mall  karena letaknya hanya sekitar 400 meter dari penginapan. Saik ya! Bukan hanya pusat perbelanjaan, nDalem Kilen juga berada ditengah 4 perguruan tinggi negeri besar di Malang yaitu Universitas Brawijaya, Politeknik Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim, dan Universitas Negeri Malang (UM or well known as IKIP). Jadi buat adik-adik yang mau daftar kuliah, bisa nih bermalam disini karena memudahkan urus segala sesuatu di calon kampus kalian.

Perpaduan unsur budaya dan alam merupakan hal yang ingin ditonjolkan oleh nDalem Kilen. Unsur tersebut akan langsung dirasakan tamu begitu tiba disini. Ornamen yang menghiasi ruang tengah penginapan serta area taman sarat akan budaya Jawa. Apalagi disini tamu juga dapat merasakan pengalaman bermain wayang dan alat musik khas Jawa Gamelan.



Berada disini membuat saya merasa berada di rumah sendiri sebab pemiliknya pun sangat ramah. Ditambah sarapan yang termasuk salah satu fasilitas nDalem Kilen untuk para tamu merupakan sajian rumahan. Tidak salah kalau setiap tamu yang datang ingin tinggal lebih lama di Malang untuk menikmati bermalam di nDalem Kilen.


Untuk mencari informasi lebih detail mengenai nDalem Kilen, kalian bisa mengunjungi laman AirBnBBooking.combedandbreakfast, atau Traveloka.

Jul 13, 2017

Lana & Rei: Bukan Kamu Tapi Dia

Rei   : Sayang, sepertinya Noah ada perasaan lebih padamu.
Lana : Jangan mengada-ada, dia hanya teman satu kantor saja, tidak lebih.
           Rasa cemburumu bisa mengacaukan segalanya.
Rei   : Ada yang tidak wajar saja menurutku sayang, hanya itu.
           Aku bukan tidak percaya padamu, tapi dia.