Jul 18, 2021

Gawai, Pro atau Kontra?

Well
Saat semua orang mulai berpaling, lantas di sini aku mencoba kembali. Yang kumaksud adalah kembali menulis. Beberapa tahun lalu, ketika menulis jadi fokus utamaku, rasa-rasanya mengungkapkan sesuatu lewat kisah tertulis tak sesulit ini. Aku butuh aktualisasi atas segala hal yang telah aku serap tanpa sempat tersalurkan. Salah satunya demi kesehatan jiwa, walau pun ini mungkin terkesan monolog, tak apa yang penting aku menemukan kenyamanan.

Kalau kamu, apa yang sedang kamu lakukan akhir-akhir ini untuk penyaluran emosimu? Cerita dong, barangkali itu juga bisa menginspirasiku. Haha, canggung rasanya berkomunikasi tanpa tatap muka. Setiap jiwa sedang dipaksa beradaptasi dengan kebiasaan baru ini. Buat kamu yang bisa cepat menyesuaikan diri, mungkin ini bukan sebuah masalah besar tapi coba perhatikan sekelilingmu, ada sebagian mereka yang lantas begitu tertekan dalam situasi ini.

Sebagai yang dapat dikategorikan (masih) anak muda, individualisme rasanya cukup melekat dengan kita yang tumbuh besar dengan buaian gawai. Bayangkan angkatan orang-orang tua kita, ah, bahkan aku sudah tidak tega membayangkannya. 

Bicara tentang gawai, aku (dan suami) memberikan perhatian lebih terhadap beberapa pola asuh serta pola didik anak yang "terpapar" gawai. Tidak, tidak, aku tidak sedang membuka ruang untuk kalian saling berdebat tentang alasan dibalik pilihan kalian masing-masing. Aku hanya merasa, 'baiklah, ini saat kami belajar. Tuhan sedang kasih kami waktu lebih untuk menyusun strategi'. Sejujurnya, aku bukan anti terhadap penggunaan gawai dalam pola asuh anak tapi aku juga termasuk yang ketat dalam mengawasi dan mengizinkan keponakan-keponakan untuk bermain dengan gawai. Yes, I'm the strict auntie, sorry kids

Semua pilihan tentunya kembali ke pertimbangan kamu ya. Orang-orang bilang, jadi orang tua itu tidak ada sekolahnya. Betul! Tapi harus diingat juga kalau Tuhan berikan akal pada manusia untuk terus belajar, lewat apa pun bentuknya. Canggihlah zaman sekarang, tak sulit rasanya untuk partisipasi dalam ruang-ruang belajar daring. Jangan berpuas dengan ilmu yang kita miliki. Ada sebuah perumpamaan dari salah seorang sahabat yang masih kuingat hingga sekarang:

Datanglah sebagai gelas kosong, sehingga ilmu dapat kamu tampung dan mengisi kekosongan di gelasmu. Saat kamu datang dengan gelas yang penuh, akan lebih sulit menerima lebih banyak ilmu.

No comments: